Makanan Khas Dairi

DPP PERMASDA

SUKU PAKPAK

Suku Pakpak banyak terdapat di Sumatera Utara, yakni di Dairi, Perbatasan dengan Aceh, Parlilitan dan Pakpak Bharat Tak banyak orang Indonesia yang mengenalnya. Bukan karena suku ini tidak terkenal, tapi karena suku ini adalah suku yang terabaikan bahkan oleh pemiliknya sendiri. Beberapa sumber mengindikasikan bahwa suku Pakpak adalah suku tertua dari clan Batak. Meski sebenarnya kebanyakan orang Pakpak tidak mau disebut sebagai Batak. Bukan karena egoisme, melainkan lebih kepada ingin menunjukkan bahwa suku Pakpak itu ada dan terlepas dari bayang – bayang suku Batak yang selama ini lebih dikenal oleh dunia.

Secara kasat mata, memang sulit membedakan antara suku Batak dan Pakpak hingga ilmuwan ( yang kita tidak tahu motifnya) menggolongkan suku Pakpak ke dalam sub suku Batak. Namun sebenarnya banyak perbedaan mendasar dari kedua suku ini, mulai dari pakaian adat, rumah adat, acara adat, marga, bahasa dan kepercayaan.

Namun suku ini kini terancam punah. Situs – situs bersejarah tentang suku ini sudah sangat langka. Rumah tradisional yang mencerminkan budaya asli orang Pakpak kini juga hampir tiada. Banyak penyebab mengapa hal ini terjadi yaitu karena terabaikan oleh pemerintah, karena banyak peninggalan yang rusak, hancur dan bahkan tak sedikit yang dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Entah mengapa suku Pakpak memang telah lama terabaikan. Nama  – nama gunung, sungai dan nama Tempat yang dulunya banyak yang dinamai dengan bahasa Pakpak kini telah berganti dengan nama yang lain. Dan juga sangat sulit mencari literatur lengkap tentang sejarah suku bangsa yang satu ini. Ditambah lagi dengan masa lalu kelam suku ini yang dikenal sebagai masyarakat yang tidak mengenal sekolah. Dan hampir tidak ada anak daerah ini yang memegang satu jabatan pentingpun di pemerintahan pusat.

KEPERCAYAAN

Saat ini mayoriyas dari suku pakpak banyak yang memeluk agama Islam dan Kristen.

PAKAIAN ADAT

Pakaian sehari-hari masyarakat pakpak pada umumnya, telah disesuaikan dengan perkembangan zaman. Namun pada acara adat tertentu, masyarakat pakpak menggunakan pakaian adatnya. Yakni :

Laki-laki

-oles

-bulang-bulang

-golok ucang

-borgot

-tali abak

-dan kujur sinane.

Perempuan

-baju merapi-api

-oles

-saomg

-cimata leppa-leppa

-rabimunduk

-dan ucang.

MAKANAN KHAS

Adapun makanan khas adat Pakpak adalah sebagai berikut:

Pelleng (Nasi Kuning)

makanan khas suku Dairi
makanan khas suku Dairi

Ini makanan khas, yang oleh orang Pakpak dipercaya memiliki kekuatan supranatural. Santapan ini lazimnya dihidangkan dalam acara menyongsong kegiatan yang dianggap berisiko besar. Perang misalnya. Juga dalam perhelatan untuk menggapai cita-cita atau mewujudkan harapan. Misalnya upacara menanda tahun, merkottas, meneppuh babah, atau mbengket bages.

P’ll’ng

Bahan untuk membuat pelleng adalah: beras, kunyit, cabe, asam, garam, kelapa, dan daging ayam. Cara membuat: beras ditanak menjadi nasi dan dibiarkan hingga lembek; masukkan kunyit, cabe, dan bumbu lain yang sudah digiling halus, asam, garam dan santan secukupnya; kemudian diaduk sampai rata, maka jadilah pelleng. Daging ayam digulai terpisah. Cara menyajikannya: pelleng ditata berbentuk tempurung terbalik di atas piring porselen, kemudian di atasnya ditaburi gulai ayam, dan diperindah dengan cabe merah mentah. Selanjutnya, siap sudah untuk disantap. Menyantapnya pada pagi hari saat matahari sedang naik menuju zenith.

Nakan Merasa atau Nakan Pagit

Bahannya berupa beras yang dicampur dengan bungke (buah dari tumbuhan yang rasanya pahit, inggir-inggir [Toba]), singgaren (tumbuhan yang wangi), rimbang, dan terong. Campuran ini lantas dimasak bersama nasi. Suguhan ini khususnya untuk perempuan hamil dalam acara yang dikenal sebagai memerre nakan merasa atau nakan pagit (menyuguhkan makanan berasa pahit).

Suguhan nakan merasa atau nakan pagit dimaksudkan agar perempuan hamil mendapat kekuatan sehingga terhindar dari segala macam penyakit. Jalan pikirannya: darah si ibu dan bayinya nanti akan terasa pahit sehingga tak disukai virus dan bakteri. Makanan ini disantap saat kandungan berusia 5 sampai 7 bulan. Menyantapnya pada pagi hari saat matahari sedang naik menuju zenith.

Nditak (Tepung Beras)

Beras ditumbuk halus dan diayak, lalu dicampur dengan gula merah serta kelapa. Lalu dikepal-kepal dengan tangan. Selesai. Itu yang disebut nditak. Penganan ini dihidangkan saat upacara mengikir atau mengelentik (kikir gigi) anak perempuan menjelang remaja (ampe-ampe bunga). Juga dalam acara muat nakan peradupen yaitu penyerahan mas kawin sebelum upacara perkawinan berlangsung. Dalam hajat ini nditak disediakan keluarga calon pengantin perempuan. Dalam meneppuh babah (menuntaspuaskan pinta mulut), acara yang dilaksanakan seusai acara adat lainnya (perkawinan, panen, upacara tahunan), nditak juga menjadi sajian.

Selain yang sudah disebut masih ada sejumlah makanan atau minuman khas Pakpak yang disuguhkan dalam acara adat. Misalnya nakan gersing yaitu nasi yang dimasak dengan kunyit, dan disajikan dengan meletakkan telor ayam rebus di atasnya; ginaru ncor yaitu beras yang dimasak menjadi bubur dan dicampur dengan cuka makan; pola tangkasen yaitu air enau yang diasamkan (tuak), pola tenggi yaitu air enau yang masih baru atau nira; tenggoli yaitu gula dari enau, tebu, dan madu lebah.