LEGENDA DAIRI

DPP PERMASDA

(SEJARAH TEMPO DOLOE)

Kapurbarus

Tanah Dairi sebenarnya sejak lama telah berhubungan dengan dunia luar, termasuk mancanegara. Kontak itu memang tidak langsung, melainkan lewat Barus, tetangga di selatan. Sudah sejak zaman prasejarah Barus termashyur sebagai bandar internasional. Dan untuk ketersohoran tersebut, Tanah Pakpak punya kontribusi besar. Sayang sampai sekarang andil ini hampir luput dari catatan sejarah. Sebelum membahasnya, kita telaah dulu Barus dengan kebesaran masa lalunya.

Barus masa lalu-sebutan lainnya Fansur (Arab) dan Pansur (Batak)-identik dengan dua hal, yakni kamper atau kapur barus dan penyair mistik Hamzah Fansuri yang memang lama tinggal di sana. Di antara keduanya kamperlah yang paling lekat dengan nama tempat ini. Dalam pengetahuan umum kota kecil di pantai barat Sumatera inilah penghasil kamper yang paling tinggi mutunya dan paling murni sifatnya.

Sejak lama, sebelum tarikh Masehi, kamper yang di negeri kita bersebutan “kapurbarus” telah menjadi komoditas dunia. Barang ini dahulu bernilai tinggi, setara emas. Maksudnya satu kilogram kamper bernilai tukar sekilogram emas. Mahal karena faedah atau khasiatnya banyak. Penggunaannya yang jamak adalah di dunia pengobatan (ketabiban dan kedokteran) serta keobatan (farmasi). Menurut kisah lawas, champor (kapurbarus) menjadi salah satu unsur ramuan yang dipakai dalam mengawetkan jasad penguasa Mesir (firaun) terkemuka, Ramses II. Mummi raja yang berkuasa pada kurun tahun 1279-1213 sebelum Masehi tersebut telah dibawa ke Paris tahun 1974 untuk diperiksa. Masalahnya hasil pembalseman tersebut (kini berada di Meseum Mesir) kian rusak saja digerogoti jamur. Cerita lain menyebut salah satu wewangian yang dibawa kaum Majus sebagai persembahan untuk bayi Yesus yang baru lahir di Betlehem kapurbarus juga. Kemenyan disebut juga bagian dari seserahan mereka kala itu; hanya saja tak disebut dari mana asalnya.

Ihwal kapur dari Barus sudah ada catatannya di awal tarikh Masehi. Salah satunya dibuat Claudius Ptolemaeus (90-168) seorang Yunani Alexandria (Mesir) yang merupakan ahli astronomi, astrologi, dan geografi terkemuka. Dalam karya akbarnya, Geographia, ia menyebut Barousai penghasil kamper. Kalaupun tak dicatat, di masa itu ihwal kapurbarus setidaknya sudah dipercakapkan dalam pelbagai bahasa, termasuk Yunani, Syria, Cina, Tamil, Arab, Armenia, Jawa, dan Melayu.

Sejak abad ke-6 kapur dari Barus dikenal di berbagai kawasan yang terbentang dari Cina ke Laut Tengah yang memisahkan Eopa dengan Afrika. Sebab itu, catatan tentang komoditas ini pun makin banyak. Tersebutlah catatan dari Dinasti Liang dari Cina selatan (abad ke-6), I-tsing (tahun 692), Ibnu Chordhadhbeh (tahun 846), Marco Polo (tahun 1292), dan Ibnu Batutah (tahun 1345), misalnya. I-tsing adalah seorang rahib Buddha yang sempat tinggal bertahun-tahun di Sriwijaya saat berziarah dari Cina ke India. Marco Polo seorang pengelana Italia yang sempat singgah di Pasai (Aceh). Ibnu Batutah orang Berber dari Tangier (Afrika Utara). Dia kemungkinan telah menjejak tanah Barus dalam perjalanan ke pantai barat Sumatera.

Kendati telah banyak disebut, sejauh itu belum jelas yang mana sebenarnya Barus, negeri sumber kamper “yang paling tinggi mutunya dan paling murni sifatnya” itu. Tabir Barus masih saja gelap. Pasalnya pelukisan oleh para penjelajah-penulis tadi tidaklah sama. Ptolemaeus, misalnya, menggambarkan Barrous sebagai kawasan lima pulau. Penulis lain ada yang menyebut lokasinya di Semenanjung Malaka. Di Aceh adanya, tulis yang lain. Perujuk Barus sekarang memang ada juga. Jauh dari sinkron informasi mereka; simpang siur jadinya. Kekarut-marutan penggambaran ini tentu mudah kita pahami. Pada masa I-tsing, Ibnu Chordhadhbeh, Marco Polo, atau Ibnu Batutah pengetahuan geografis orang masih sangat terbatas sebab pelayaran lintas benua masih sangat sedikit dan teknologi navigasi masih begitu sederhana. Apalagi di masa Ptolemaeus.

****

Simpang Siur

Kesimpangsiuran ini berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang pun masih ada ahli yang meragukan bahwa Barus sekaranglah yang dirujuk sebagai sumber kamper “yang paling tinggi mutunya dan paling murni sifatnya” itu. Dasar keraguan mereka ada beberapa. Pertama, sejak dulu kamper tak hanya datang dari Barus sekarang, tapi juga dari Borneo (Kalimantan), Semenanjung Malaka, dan Jepang. Sebagai catatan, kamper-sebuah bahan keras, bisa berupa pasir-merupakan hasil oksidasi minyak yang terdapat dalam sel-sel khusus yg mengeluarkan bahan ini. Sel-sel ini terdapat di semua bagian pohonnya. Terdapat dua jenis kamper dari keluarga berbeda: (1) Dryobalanops aromatica Gaertn dari keluarga Dipterocarpaceae mengasilkan kapur Borneo dan (2) Cinnamonum camphora (L.), Nees, dan Ebern dari keluarga Lauraceae atau kamper Jepang. Jenis pertama ini jauh lebih bernilai secara ekonomis. Hanya setelah kamper hasil pabrikan muncullah nilainya merosot tajam.

Kalau saja sosok kejayaan masa lalu masih jelas tampak di Barus, sekarang tabir gelap tadi tak perlu begitu lama menggantung. Realitasnya, Barus sekarang yang tercakup dalam Kabupaten Tapanuli Tengah dalam penampakannya di permukaan begitu bersahaja dan terisolasi. Kecuali makam-makam Islam dari sekitar abad ke-14, kawasan ini hampir tak menyisakan artefak dari sebuah bandar internasional masa kuno. Inilah dasar keraguan kedua. Begitupun, di tengah kesimpangsiuran informasi ihwal Barus yang menjadi sumber kamper terbaik, ada satu hal yang akhirnya disepakati banyak ahli. Yaitu kata ‘kamper’ berasal dari rumpun bahasa Austronesia. Jadi kemungkinan besar asal komoditas ini adalah kawasan di Nusantara.

Sejak abad ke-16 mulai lebih terang sebenarnya bahwa Barus sekaranglah sumber kamper terbaik yang diapresiasi dunia itu. Tapi kawasan ini sendiri ternyata hanya bandar penampung saja, bukan penghasil.

Tom Pires, seorang musafir Portugis, di awal abad ke-16 mendeskripsikan Barus lebih jelas. Ia menyebut negeri ini sangat kaya, kemana pedagang India dan Arab datang langsung untuk mencari damar (kamper dan kemenyan). Barus yang saat itu berhungan dekat dengan Minangkabau, menurut dia, dinamakan juga Panchur atau Pansur. “Orang Gujarat menamakannya Panchur, juga bangsa Parsi, Arab, Bengali, Keling, dst. Di Sumatra namanya Baros (Baruus). Yang dibicarakan ini satu kerajaan, bukan dua,” tulis dia.[3]

Barus, lanjut Tom Pires, telah lama berdagang dengan negeri Pakpak. Hasil bumi berupa kamper dan kemenyan yang dijual di Barus, lanjut dia, didatangkan dari pedalaman. Yang dimaksud dengan pedalaman tentu saja tanah Pakpak yang kala itu setidaknya mencakup Manduamas, Pakkat, dan Parlilitan.

Catatan yang lebih pasti ihwal Barus baru ada sejak Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) menempatkan perwakilannya di sana. Dalam laporan VOC di abad ke-17 disebut pohon kapur barus dan kemenyan terdapat di daerah perbukitan di antara tanah pantai yang datar dan dataran tinggi Toba. “Di daerah terjal ini damar dipungut oleh berbagai kelompok Batak dan diangkut oleh mereka ke tepi laut, terkadang melalui beberapa daerah lain dulu. Di pantai damar dipertukarkan dengan bahan keperluan mereka seperti kain, besi, dan garam,” demikian catatan VOC.[4] Di sini yang dimaksud VOC dengan Batak tentu tidak hanya Toba.

Sekitar abad ke-17 itu, menurut catatan VOC tadi, yang menjadi penduduk Barus adalah orang Melayu, Batak, dan etnik Nusantara lain termasuk Aceh. Orang Melayu dimaksud banyak dari Minangkabau dan pelabuhan-pelabuhan yang lebih selatan. Sedangkan orang Batak yang disebut adalah mereka yang sudah merantau ke pantai dan yang sudah kawin-mawin dengan orang setempat. Masih menurut catatan tadi, saat VOC hendak menjalin hubungan dengan penguasa lokal tahun 1668 barulah mereka tahu bahwa Barus diperintah oleh dua raja yakni Raja di Hulu (campuran Batak-Melayu) dan Raja di Hilir (campuran Melayu dari Terusan, Sumatera Barat). Raja di Hulu menjalin hubungan khusus dengan masyarakat Pakpak yang memungut kamper di Barus barat laut dan pedalamannya. Sedangkan Raja di Hilir berpengaruh besar terhadap orang Batak di Pasaribu dan Silindung yang memungut kemenyan di perbukitan di Barus timur laut serta di pedalaman Sorkam dan Korlang.

Sampai abad ke-19 Barus masih menjadi penyalur utama kamper dari tanah Dairi. Para pedagang di Barus membeli komoditas ini dari para petani dan pengumpul yang datang dari pedalaman. Sungai dan jalan setapak menjadi jalur para pengumpul.

Dalam skala yang lebih kecil Singkil juga penampung kapurbarus dan hasil bumi Dairi lainnya. Di wilayah Singkil, pangkalan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di tanah Pakpak menjadi tempat transaksi. Para petani dari pedalaman datang ke sana membawa kamper, kemenyan dan yang lain untuk ditukar dengan garam, kain, tembakau Cina, opium, dan aneka barang dari besi. Pada abad ke-19 terdapat sejumlah pangkalan di Boven Singkel (Singkil Atas) yakni Sinundang, Kumbi, dan Puge di Batang Sinundang; Traju, Pulau Melang, dan Bruntungan Kambing di Batang Sulambi; Panggalan dan Silak di Batang Kumbi, Panuntungan dan Belegen di Batang Belegen, Angkat dan Sarah di Batang Batu-batu, serta Biski di Batang Biski.[5]

Selain ke Barus dan Singkil kamper dan kemenyan dari tanah Pakpak juga masuk ke pelabuhan pantai barat lainnya yakni Tapian Na Uli (Sibolga), Natal dan Air Bangis. Kedua komoditas ini menjadi barang ekspor utama bandar-bandar tersebut hingga pertengahan abad ke-19. Khusus kemenyan sumbernya ada beberapa selain tanah Pakpak. Tanah Toba salah satunya.

Jelaslah, tanah Dairi yang menjadi sumber kamper andalan bandar-bandar pantai barat Sumatera sejak lama. Juga sebagai kemenyan terbaik. Tidak heran kalau di masa Hindia Belanda kawasan di pedalaman Barus dan Singkil ini dinamai Kamfergebied (sentra kamper) dan Benzoegebiet (sentra kemenyan).

****

Prasasti Lobu Tua

Ihwal Barus sekarang sebagai pusat perdagangan masa lalu kian terang setelah sebuah tiang bertulis ditemukan di Lobu Tua, dekat Barus, di masa Kontrolir GJJ Deutz tahun 1873. Prasasti yang sekarang berada di Museum Nasional, Jakarta, tersebut berhasil dibaca oleh gurubesar arkeologi di Madras, India, KA Nilakanta Sastri, tahun 1932. Bertahun 1010 Saka (tahun masehi: Februari-Maret 1088), tiang itu bertuliskan-dalam bahasa Pallawa-ikhtiar perikatan sebuah serikat dagang (merchant guild) Tamil. Menamakan diri Perkumpulan Lima Ratus karena jumlahnya 500 orang, mereka berkiprah di Barus selama abad ke-11.[6]

Bukti kebandaran Barus dikuatkan lagi oleh hasil penggalian arkelologis oleh sebuah tim Indonesia-Perancis di Lobu Tua tahun 1995-1996. Dalam eskavasi di desa yang berjarak sekitar 2 kilometer dari Barus sekarang ditemukan peninggalan arkeologi bermutu tinggi termasuk kaca dan keramik dari Timur Dekat serta banyak pecahan keramik dari Cina. Serpihan ini berasal dari abad ke-8 dan ke-9.[7]

Dari paparan tadi jelas bahwa tanah Dairi atau tanah Papak-lah sumber kamper yang telah mengharumkan nama Barus sejak masa pra-sejarah. Sebenarnya tidak semua daerah di Dairi yang menghasilkan kamper kala itu. Cuma daerah tertentu saja. Terutama Kelasan dan Manduamas. Kelasan, oleh orang India disebut Kalasapura atau Kalasha. Penduduknya menamai kamper haboruan. Sedangkan orang Pakpak umumnya (termasuk yang di Manduamas) menyebutnya keberuen. Tanda kerapatan hubungan masyarakat Dairi dengan keberuen sangat jelas: di tanah Pakpak ada sejumlah cerita rakyat (folklor) yang berlatarkan tanaman hutan ini. Di antaranya kisah Pak-Edag-Pak-Edog dan cerita Simbuyak-mbuyak.

Bahwa kamper yang diekspor Barus sejak zaman klasik itu bersumber di tanah Dairi atau tanah Pakpak, sayangnya hingga sekarang tak banyak yang tahu. Anggapan umum kamper itu ya hasil bumi Barus; toh sebutan lainnya juga ‘kapurbarus’. Tanah Pakpak sama sekali tidak dipersangkutkan. Orang Medan dari zaman dulu punya sebutan untuk ironi seperti ini: lembu punya susu, Benggali punya nama. Di Medan susu sapi segar dinamai ‘susu Benggali’ sebab orang Benggali-lah yang berkeliling menjajakannya. Kasus salah kaprah susu Benggali ini sama dengan kasus ‘jeruk Medan’. Jeruk asalnya dari tanah Karo, bukan Medan. Sebab itu sebutan yang tepat sebenarnya adalah ‘jeruk Karo’ atau paling tidak ‘jeruk Berastagi’.

****

Kapurbarus dalam Hikayat Pakpak

Keberuen merupakan sebutan umum orang Pakpak untuk kapurbarus. Adapun proses mengambil damar ini mereka sebut merteddung atau martodung. Masyarakat lama Dairi berikatan batin erat dengan hasil hutan yang satu ini.

Bukan sembarang komoditas keberuen ini bagi mereka. Sebab itu proses pencariannya pun pakai aturan main atau syarat baku. Tidak setiap pohon kapurbarus menghasilkan kapur. Tak jarang rombongan pencari yang sampai berbulan-bulan masuk hutan akhirnya pulang berhampa tangan. Jadi peruntungan juga menentukan. Agar pencarian lebih efisien rombongan biasanya membawa serta pawang. Sang pawanglah yang memimpin prosesi nanti dan memandu para pencari. Jadi selain kapurbarus, sejak lama juga tanah Dairi dikenal sebagai penghasil pawang kapurbarus.

Kerekatan Dairi dengan kamper melebihi wilayah manapun di Republik ini. Bukti kerekatan ini adalah adanya koleksi cerita orang Pakpak yang berkait dengan kapurbarus. Misalnya hikayat pasangan Pak-Edag-Pak-Edog dan Nan Tartar-Nan Tortor[8] serta hikayat Simbuyak-mbuyak[9].

Hikayat pertama ihwal cekcok suami-isteri. Suatu hari, merasa suaminya ingkar janji Nan Tartar-Nan \Tortor pun minggat dari rumah. Sang suami, Pak-Edag-Pak-Edog, pusing tujuh keliling setelah isterinya raib. Suatu malam ia bermimpi bahwa isterinya bersembunyi di dalam sebatang pohon kapurbarus. Segera ia bertindak. Diambilnya tongkat dan diketoknya setiap pohon kapurbarus yang ia temui di hutan. Benar, Nan Tartar-Nan Tortor ada di dalam pohon. Masalahnya perempuan itu selalu berpindah ke pohon kamper lain saban didekati. Pak-Edag-Pak-Edog tak kenal lelah. Tongkat terus ia pukulkan. Alhasil bunyi ketokan tongkatnya pun menggema di rimba raya: pakpak edag-edog… pakpak edag-edog… pakpak edag-edog… Pendek cerita, hati isterinya kemudian melunak sehingga mereka pulang happy ending. Yang mau dikatakan hikayat ini: sejak bunyi menggema di hutan itulah sebutan ‘orang Pakpak’ diberikan kepada masyarakat yang satu ini yang memang sejak berabad-abad terkenal sebagai pencari ulung kapurbarus.

****

Simbuyak-mbuyak

Hikayat kedua tentang tujuh lelaki bersaudara seibu-seayah dari negeri Urang Julu. Mereka adalah (berturut mulai dari yang sulung) Simbuyak-mbuyak, Turuten, Pinayungen, Maharaja, Tinambunen, Tumangger, dan Anakampun. Sejak lahir Simbuyak-mbuyak tak bisa berdiri karena ruas tulang belakangnya kelewat lemah. Kendati begitu, sesuai ajaran orangtuanya, ia tetap disayang adik-adiknya. Setelah beranjak dewasa, keenam adiknya memutuskan pergi ke rantau untuk mencari kamper yang harganya saat itu setara emas. Simbuyak-mbuyak mohon ikut dan akhirnya disetujui termasuk oleh ibu-ayahnya.

Perjalanan mencari kamper sungguh melelahkan, ternyata. Harus menembus hutan turun naik gunung mereka. Apalagi keenam adik juga harus bergantian menggendong si sulung. Akhirnya tiba juga mereka di tempat pepohonan kapurbarus tumbuh. Sesuai arahan sang kakak mereka membuat gubuk persis di pertengahan lereng Gunung Sijagar. Seia-sekata, tak boleh cekcok, memang itulah etos para pencari kamper. Dan dari sini jugalah asal-usul maksim sosial terkenal di Tanah Pakpak: ‘Sada kata dok perteddung’ (Seia-sekata seperti ujaran pencari kapurbarus).

Ketujuh bersaudara pun mematuhinya. Fisiknya yang lemah membuat Simbuyak-mbuyak di gubuk saja sendirian saat adik-adiknya pergi mencari kamper. Kerjanya seharian memintal tali. Kamper yang didapat enam bersaudara sedikit saja dan itu pun, di gubuk, kerap dilahap habis oleh si sulung. Begitu saban hari. Lama-lama kedongkolan empat dari enam bersaudara yang sudah letih itu membuncah, tapi Tinambunen dan Tumangger selalu berusaha meredakan suasana tegang. Simbuyak-mbuyak sadar dirinya sedang disoal tapi ia berlagak tak tahu. Terus saja ia memintal tali tanpa mau mengatakan untuk apa.

Tak ada yang tahu ternyata Simbuyak-mbuyak bukan manusia biasa. Malam, saat keenam adiknya sudah lelap ia sering menjelajah hutan. Ia bisa menandai mana pohon yang berkamper dan mana yang tidak. Bahkan tahu berapa kandungan pohon yang berisi kamper tersebut.

Kekecewaan keempat adik Simbuyak-mbuyak akhirnya memuncak. Mereka memutuskan pulang dan meninggalkan abang sulung di hutan. Suatu hari mereka pamit. Pulang dulu mengambil bekal, itu alasannya. Merasa kasihan, Tinambunen dan Tumangger mengatakan mau tinggal untuk menemani Simbuyak-mbuyak. Ternyata Simbuyak-mbuyak mengatakan lebih suka ditinggal sendiri. Cuma satu pintanya: tolong dijemput kalau pohon durian mereka di kampung sudah berbuah. Tak sembarang pohon durian mereka itu: cuma satu dan buahnya tunggal pula. Tapi sungguh istimewa buah ini: kelewat besar dan rasanya lezat nian. Semuanya mengatakan siap menjemput.

Sesampai di kampung kepada orangtua keempat bersaudara tadi menceritakan kesialan mereka di hutan. Mereka lantas mempersalahkan si abang sulung. Setelah berkisah mereka menguatarakan pinta ke orangtua yaitu menggelar pesta dulu sebelum mereka kembali ke hutan nanti. Sajiannya buah durian mereka serta daging ternak. Pinta diluluskan.

Khawatir terlambat Tinambunen dan Tumangger bergegas menjemput Simbuyak-mbuyak. Saat kedua bersaudara ini masih menapak menuju Gunung Sijagar ternyata pesta di kediaman mereka di Urang Julu sudah mulai. Lewat kemampuan istimewanya Simbuyak-mbuyak tahu itu. Masygul dia. Lantas ia yang sejak kepergian keenam adiknya telah menjelma menjadi pemuda ganteng nan gagah mulai merentangkan tali yang selama ini dipintalnya. Setiap pohon berisi kapurbarus ia pertautkan dengan tali itu. Ia berdoa agar pohon paling besar dan tinggi serta penuh berisi kapurbarus tumbang. Doanya terkabul. Pohon itu terhempas. Juga, batang itu terpotong-potong rapi. Berdoa lagi dia: kayu berpotong itu terbelah dua.

Sewaktu Tinambunen dan Tumangger tiba mereka tak menemukan abangnya. Bertambah heran keduanya karena tali-temali berseliweran mulai dari gubuk hingga ke hutan. Tatapan mereka kemudian terbentur pada sebuah pohon besar-tinggi yang rebah di depan gubuk. Saat mendekat mereka melihat sang abang terbaring di belahan kayu itu. Sontak disergap rasa kaget dan haru keduanya. Simbuyak-mbuyak mereka bujuk agar keluar dari sana. Tak berhasil. Simbuyak-buyak mengungkapkan isi hati kepada kedua adik yang sungguh menyayangi dirinya. Ia bilang bahwa seandainya saja ikut dalam pesta buah durian dan daging ternak gemuk di kampung ia akan memohon ke sang pencipta agar dirinya dijelmakan sebagai manusia sehat. Tapi, semuanya sudah terlambat, ucap dia. Ia lantas memberitahu bahwa semua pohon yang ia ikat itu berisi kapur barus. Ia persilakan mereka mengambilnya nanti sebagai pengganti kapurbarus yang telah ia makan selama ini. Setelah memberi pelbagai petunjuk dan bertitip pesan kepada kedua orangtua dan sanak saudara ia pun mohon diri. Suara maha guruh terdengar seketika. Kayu terbelah bersatu menelan tubuh Simbuyak-buyak. Kayu itu lalu meluncur maha kencang dari lereng Gunung Sijagar. Ke samudra arahnya.

Tinambunen dan Tumangger sedih bukan kepalang. Namun duka mereka segera susut setelah melihat kapurbarus berlimpah yang ditinggalkan Simbuyak-buyak. Dengan bawaan yang sarat mereka pun pulang. Di rumah, kepada keempat saudaranya bawan itu mereka bagikan juga. Akhirnya keluarga mereka menjadi makmur. Hikayat pun berujung.