Kegiatan Pra Pelantikan Pengurus DPP PERMASDA

DPP PERMASDA

PELANTIKAN PENGURUS

DPP PERKUMPULAN MASYARAKAT DAIRI (PERMASDA)

KOTA BATAM

PERIODE 2015 – 2020

 

 

Sub kegiatan :

1. Jalan Santai

2. Cerdas cermat tingkat SD,SMP,SMU (Pengenalan Kabupaten Dairi)

Jalan Santai

Dalam berkehidupan sebagai warga masyarakat, terbentuk sebuah dinamika sosial, dimana peran perorangan tidak luput dari keterkaitannya dengan kehidupan bersama. Terutama sebagai warga Indonesia, kehidupan sosial diwarnai dengan keberadaan adat istiadat, kebudayaan suku atau karakteristik etnis yang berperan besar sebagai media sosialisasi atau pengembangan kepribadian.

Salah satu kekayaan bangsa Indonesia adalah kebudayaan suku yang beragam, hal ini menjadi sumber peradaban bangsa Indonesia memberikan kontribusi terhadap kemajuan Bangsa dan Negara. Karena hal ini, tentu pelestarian terhadap kebudayaan etnik menjadi tanggung jawab bersama, baik perorangan yang terikat oleh adat, maupun pemerintah, dan bahkan telah menjadi kepentingan global untuk menghargai nilai karya manusia yang memiliki akal dan hati.

Budaya etnik adalah warisan, dan mengikat jati diri seseorang. Dimanapun seseorang berada, yang telah terwarisi budaya etnik, akan nampak melalui kepribadian, kepercayaan ataupun nilai-nilai psikologis yang dapat membedakan karakter seseorang. Fenomena ini adalah modal sosial untuk menciptakan kebersamaan, kerukunan, kedamaian, kerjasama, dan modal peningkatan diri, menggali potensi, modal membangun relasi-relasi mutualisme dan media pembelajaran. Bagaimanapun Budaya etnik adalah potensi yang bernilai tinggi yang harus dilestarikan.

Kebudayaan Pakpak Dairi adalah satu diantara banyaknya budaya etnik yang memiliki karakteristik unik. Pakpak dairi menjadi sangat populer karena lestari, terpelihara, berkembang, terjaga melalui sejarah maupun nilai-nilai aplikatif kebudayaan, seperti kesenian, bahasa, prilaku, keorganisasian, etika, bahkan filosofi yang oleh sebagian orang Pakpak dijadikan pandangan hidup di dalam kehidupan sehari-hari.

Asal Pakpak Dairi jika dilihat dari sejarah yang disadur dari  Buku DAIRI DALAM KILATAN SEJARAH, karangan Jansen Sinamo, Flores Tanjung dan Hasudungan Sirait.

Pakpak berasal dari  Pegunungan Bukit Barisan melintang di sepanjang Pulau Sumatera dengan posisi yang jauh lebih dekat ke pantai barat. Tanah Dairi terletak di lintangan ini. Kedudukannya: di utara berbatasan dengan Karo, di timur laut dengan Karo dan Simalungun, di timur dengan Simalungun dan Samosir, di tenggara dengan Samosir dan Humbang Hasundutan, di selatan dengan Humbang Hasundutan dan Tapanuli Tengah (Manduamas yang sejajar dengan Barus), dan Aceh (termasuk Singkil). Adapun perbatasan mulai dari barat daya hingga barat laut adalah Aceh.

Tanah Dairi biasa juga disebut “Tanah Pakpak” sebab penduduk aslinya memang orang Pakpak. Sejak tahun 2003 Dairi sebagai kabupaten telah dipecah. Hasilnya adalah Kabupaten Pakpak Bharat di belahan selatan. Dengan begitu wilayah Kabupaten Dairi yang semula sekitar 314.000 hektar kini kurang lebih tinggal separo. Setelah pemecahan ternyata sebutan “Tanah Pakpak” tadi masih saja jamak dipakai. Wajar memang sebab penamaan tersebut sudah sejak dahulukala. Tadi telah disebut Dairi berada di lintangan Bukit Barisan. Konsekuensinya adalah kedudukannya di dataran tinggi dengan posisi lebih dekat ke pantai barat. Beratmosfir pegunungan, itulah Dairi.

Dairi tak seberapa jauh dari ibukota Sumatera Utara. Jarak Medan-Sidikalang hanya berkisar 150 kilometer. Jarak yang dalam kondisi normal bisa dicapai sekitar tiga jam dengan kendaraan pribadi. Lintasannya eksotik sehingga pasti disukai para penikmat alam. Katakanlah kita akan melawat ke Sidikalang. Setelah meninggalkan Medan kita akan disambut alam Karo yang elok. Jalan menuju Berastagi yang menanjak berkelok-kelok kemungkinan akan kontan mengingatkan kita pada kitaran Cisarua-Puncak-Cipanas.

Kebudayaan Pakpak Dairi  tidak hanya berada diwilayah Sumatra, Pakpak Dairi berkembang juga karena dorongan migrasi (“berkelananya” orang Batak Dairi ke luar wilayah Sumatra), perkawinan dan transformasi nilai melalui formal akademik maupun pergaulan tidak resmi. Cukup jelas, bahwa perkembangan budaya Pakpak Dairi menjadi bagian dinamika peradaban bangsa Indonesia, seperti halnya etnik lain terlihat dalam dinamika sosial, dinamika politik, dan dinamika ekonomi.

Kebudayaan Pakpak Dairi berkembang hingga wilayah luar Jawa atau  seperti Jakarta, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan kota-kota lain bahkan di negara Malaysia, Jepang, ataupun Belanda. Secara khusus, budaya Pakpak Dairi memiliki potensi di  Sumatra Utara terpusat di dataran tinggi Sumatra Utara, tepatnya di kabupaten Dairi beribukota Sidikalang dan kabupaten Pakpak Bharat beribukota Salak. Selain itu juga terpusat di beberapa kabupaten lain seperti di kabupaten Singkil provinsi Aceh.

Bahkan untuk Kota Batam yang merupakan bagian kecil dari bahagian Kepulauan Riau yang memiliki 4 Kabupaten dan 2 kota yakni, Kota Batam,Kota Tanjung pinang,Kabupaten Karimun ,Kabupaten Lingga,Kabupaten Natuna,dan terakhir Kabupaten yang terbaru Anambas.Didaerah ini sudah banyak masyarakat Dairi yang dapat ditemui, bahkan mereka mengangap Kota Batam bukanlah lagi sebagai Tanah perantauan tapi sudah menyatu.

Perkembangan ini diasumsikan dari mengingat banyaknya orang Pakpak dairi yang merantau (mencari penghidupan) ke Kota Batam, lalu ada sebagian yang menikah dengan orang-orang yang sudah lebih dulu ada di kota Batam seperti Batak toba,Batak simalungun,Batak Karo bahkan dari Jawa,dan Flores.

Kota Batam adalah salah satu kota yang cukup unik,hal ini disebabkan semua suku ada di Kota Batam.Sehingga dari penyebaran suku tersebut suku Dairi juga mengalami proses transformasi, dimana ada orang Batam belajar ke Dairi, bersosialisasi dan kembali ke Batam membawa nilai-nilai budaya Dairi. Potensi ini sangat terkait dengan pembangunan Kota Batam maupun pembangunan wilayah. Sebaran alam Batam yang “memaksa” orang Dairi datang.

Melihat kenyataan itu, dan menyadari akan besarnya potensi kebudayaan Dairi berkembang di Kota Batam, secara omatis juga membawa perkembangan bagi orang-orang Dairi di Kota Batam, maka terbentuklah perkumpulan budaya orang Dairi, yang lebih dikenal dengan Perkumpulan Masyarakat Dairi PERMASDA BATAM. Perkumpulan Masyarakat Dairi merupakan organisasi sosial budaya orang Dairi yang berada di Kota Batam.

Organisasi ini berperan memberikan wadah bagi orang-orang Dairi untuk mengembangkan potensi di Batam, serta pengembangan jati diri etnik, serta berperan membangun daerah Kota Batam khususnya dan Kepri pada umumnya.

Perkumpulan bersifat kebersamaan, kekeluargaan, ajang silaturahmi, solid dalam tatanan kesamaan suku, keakraban, gotong royong, dan dinamis. Perkumpulan Masyarakat Dairi adalah modal sosial bagi masyarakat di Kota Batam, mengingkat peran-peran perkumpulan dairi bukan hanya dirasakan oleh anggota, tetapi juga oleh masyarakat Kota Batam, pemerintah Kota Batam, dan juga pemerintah Provinsi Kepri. Sesuai dengan Anggaran Dasar dan Rumah Tangga (AD/ART) Perkumpulan Masyarakat Dairi , organisasi ini bergerak dalam tatanan keorganisasian yang jelas, memilki visi dan misi, struktur kepengurusan, keanggotaan yang bersifat terbuka, dan satu hal yang membedakan dengan organisasi lain ialah diwarnai dengan karakteristik Dairi yang sudah ada mencapai 15 sub suku di Batam.

Atas dasar pemikiran diatas, bahwa eksistensi Perkumpulan Masyarakat Dairi menjadi sangat penting dan bermanfaat bagi semua pihak di Kota Batam maupun di Provinsi Kepri. Untuk keberlangsungan Perkumpulan Masyarakat Dairi, maka segala apa yang tertera dalam AD/ART maupun program kerja harus menjadi acuan kegiatan organisasi. Salah satunya adalah Musyawarah Besar Perkumpulan Masyarakat Dairi, yang membahas tatanan organisasi sampai pembentukan kepengurusan periode baru, dan kemudian pelantikan pengurus.

Namun sebelum memasuki Pelantikan PERMASDA BATAM yang akan digelar pada Bulan Oktober 2015 mendatang ,pengurus juga mengadakan kegiatan seperti Jalan santai dan Cerdas cermat,rencananya akan mengambil lokasi di MALL TOP 100 Batu Aji