Pembauran Budaya Pakpak

DPP PERMASDA

A. Sejarah Suku Pakpak dalam jejak hindu-budha

Selama ini pihak keturunan Raja Borbor ataupun yang lebih kecilnya lagi keturunan Silau Raja dari Toba selalu mengklaim bahawa semua marga yang berbunyi Manik entah dari Toba,Damanik di Simalungun,Karo-Karo Manik di Karo dan Manik di Pakpak Dairi seakan-akan membuat sebutan “manik” adalah Hak Ekslusif dari pihak Toba semata.

Pembaharuan Budaya Pakpak
Pembaharuan Budaya Pakpak

Diceritakan dalam Sejarah Pihak Pakpak maka asal mereka adalah dari India Selatan yaitu dari Indika Tondal ke Muara Tapus dekat Barus lalu berkembang di Tanah Pakpak dan menjadi SukuPakpak.Pada dasarnya mereka sudah mempunyai marga sejak dari negeri asal namun kemudian membentuk marga baru yang tidak jauh berbeda dengan marga aslinya.

Tidak semua Orang Pakpak berdiam di atas Tanah Dairi namun mereka juga berdiaspora,meninggalkan negerinya dan menetap di daerah baru.

  1. Sebagian tinggal di Tanah Pakpak dan menajadi Suku Pakpak “Situkak Rube:,”Sipungkah Kuta” dan “Sukut Ni Talun” di Tanah Pakpak.
  2. Sebagian ada pergi merantau ke daerah lain,membentuk komunitas baru.Dia tahu asalnya dari Pakpak dan diakui bahwa Pakpak adalah sukunya namun sudah menjadi marga di suku lain.
  3. Ada juga yang merantau lalu mengganti Nama dan Marga dengan kata lain telah mengganti identitasnya.

Diceritakan bahwa Nenek Moyang awal Pakpak adalah Kada dan Lona yang pergi meninggalkan kampungnya di India lalu terdampar di Pantai Barus dan terus masuk hingga ke Tanah Dairi,dari pernikahan mereka mempunyai anak yang diberi nama HYANG.Hyang adalah nama yang dikeramatkan di Pakpak.

Hyang pun besar dan kemudian menikah dengan Putri Raja Barus dan mempunyai 7 orang Putra dan 1 orang Putri yaitu :

1) Mahaji

2) Perbaju Bigo

3) Ranggar Jodi

4) Mpu Bada

5) Raja Pako

6) Bata

7) Sanggar

8) Suari (Putri)

Pada urutan ke 4 terdapat nama Mpu Bada,Mpu Bada adalah yang terbesar dari pada saudara-saudaranya semua,bahkan dari pihak Toba pun kadangkala mengklaim bahwa Mpu Bada adalah Keturunan dari Parna dari marga Sigalingging.sedangkan pada sejarah sudah jelas-jelas bahwa Mpu Bada adalah anak ke 4 dari Hyang.Makanya perlu hati-hati jika memperhatikan pembalikan fakta sejarah yang sering dilakukan oleh Pihak Toba dewasa ini.

Anak Sulung,Mahaji mempunyai Kerajaan di Banua Harhar yang mana saat ini dikenal dengan nama Hulu Lae Kombih,Kecamatan Siempat Rube.

Parbaju Bigo pergi ke arah Timur dan membentuk Kerajaan Simbllo di Silaan,saat ini dikenal dengan Kecamatan STTU Julu.

Ranggar Jodi pergi ke arah Utara dan membentuk Kerajaan yang bertempat di Buku Tinambun dengan nama Kerajaan Jodi Buah Leuh dan Nangan Nantampuk Emas,saat ini masuk Kecamatan STTUJehe.Mpu Bada pergi ke arah Barat melintasi Lae Cinendang lalu tinggal di Mpung Si MbentarBaju.Raja Pako pergi ke arah Timur Laut membentuk Kerajaan Si Raja Pako dan bermukim di Sicike-cike.

Bata pergi ke arah Selatan dan menikah kemudian hanya mempunyai seorang Putri yang menikah dengan Putra Keturunan Tuan Nahkoda Raja.Dari sini menurunkan marga Tinambunen,Tumangger,Maharaja,Turuten,Pinanyungen dan Anak Ampun.

Sanggir pergi ke arah Selatan tp lebih jauh daripada Bata dan mmbentuk Kerajaan di sana,dipercaya menjadi nenek moyang marga Meka,Mungkur dan Kelasen.

Suari Menikah dengan Putra Raja Barus dan memdiam di Lebbuh Ntua.

Marga Manik diturunkan oleh Mpu Bada yang mempunyai 4 orang anak yaitu :

  1. Tondang
  2. Rea sekarang menjadi Banurea
  3. Manik
  4. Permencuari yang kemudian menurunkan marga Boang Menalu dan Bancin.

B. Asal-usul dan persebaran orang Pakpak

Pakpak biasanya dimasukkan sebagai bagian dari etnis Batak, sebagaimana Karo, Mandailing, Simalungun, dan Toba. Orang Pakpak dapat dibagi menjadi 5 kelompok berdasarkan wilayah komunitas marga dan dialek bahasanya, yakni

1. Pakpak Simsim, yakni orang Pakpak yang menetap dan memiliki hak ulayat di daerah

Simsim. Antara lain marga

Berutu Banurea

Sinamo Boang manalu

Padang Sitakar

Manik Lingga

Tinendung Kabeaken

Limbong Cibro

Solin dll

Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kabupaten Pakpak Bharat.

2. Pakpak Kepas, yakni orang Pakpak yang menetap dan berdialek Keppas.

Antara lain marga

Ujung Angkat

Bintang Capah

Bako Kudadiri

Maha Gajah Manik

Gajah dll.

Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Silima Pungga-pungga, Tanah Pinem, Parbuluan, dan Kecamatan Sidikalang di Kabupaten Dairi.

3. Pakpak Pegagan, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Pegagan.

Antara lain Marga:

Lingga Maibang

Matanari ManikSiketang

dll.

Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah

Kecamatan Sumbul, Pegagan Hilir, dan Kecamatan Tiga Lingga di Kabupaten Dairi.

4.Pakpak Kelasen, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Kelasen. Antara lain marga

Tumangger Anak ampun

Siketang Kesogihen

Tinambunan Maharaja

Meka Beras

Mungkur dll.

Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah

Kecamatan Parlilitan dan Kecamatan Pakkat (di Kabupaten Humbang Hasundutan), serta

Kecamatan Barus (di Kabupaten Tapanuli Tengah).

5. Pakpak Boang, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Boang.

Antara lain marga:

Sambo, Penarik, dan Saraan. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini

termasuk dalam wilayah Singkil (Nanggroe Aceh Darussalam).

Berikut ini adalah nama marga-marga pada suku pakpak:

  1. Anakampun
  2. Angkat
  3. Bako
  4. Bancin
  5. Banurea
  6. Berampu
  7. Berasa
  8. Beringin
  9. Berutu
  10. Bintang
  11. Boangmanalu
  12. Capah
  13. Ceun
  14. Dabutar
  15. Cibro
  16. Gajah Manik
  17. Gajah
  18. Kabeaken
  19. Kesogihen
  20. Kaloko
  21. Kombih
  22. Kudadiri
  23. Lembeng
  24. Lingga
  25. Maha
  26. Pinayungen
  27. Maharaja
  28. Manik
  29. Matanari
  30. Meka
  31. Maibang
  32. Mungkur
  33. Padang
  34. Padang Batanghari (BTH)
  35. Pasi
  36. Penarik Pinayungan
  37. Pohan
  38. Sambo
  39. Saraan
  40. Sagala
  41. Sikettang
  42. Sinamo
  43. Sitakar
  44. Sitongkir
  45. Solin
  46. Saing
  47. Tendang
  48. Tinambunan
  49. Tinendung
  50. Tumangger
  51. Turutan
  52. Ujung

Meskipun oleh para antropolog orang-orang Pakpak dimasukkan sebagai salah satu sub etnis Batak di samping Toba, Mandailing, Simalungun, dan Karo. Namun, orang-orang Pakpak mempunyai versi sendiri tentang asal-usul jatidirinya. Berkaitan dengan hal tersebut sumber-sumber tutur menyebutkan antara lain (Sinuhaji dan Hasanuddin, 1999/2000:16):

  1. Keberadaan orang-orang Simbelo, Simbacang, Siratak, dan Purbaji yang dianggap telah mendiami daerah Pakpak sebelum kedatangan orang-orang Pakpak.
  2. Penduduk awal daerah Pakpak adalah orang-orang yang bernama Simargaru, Simorgarorgar, Sirumumpur, Silimbiu, Similang-ilang, dan Purbaji.
  3. Dalam lapiken/laklak (buku berbahan kulit kayu) disebutkan penduduk pertama daerah Pakpak adalah pendatang dari India yang memakai rakit kayu besar yang terdampar di Barus.
  4. Persebaran orang-orang Pakpak Boang dari daerah Aceh Singkil ke daerah Simsim, Keppas, dan Pegagan.
  5. Terdamparnya armada dari India Selatan di pesisir barat Sumatera, tepatnya di Barus, yang kemudian berasimilasi dengan penduduk setempat.

Berdasarkan sumber tutur serta sejumlah nama marga Pakpak yang mengandung unsur keindiaan (Lingga, Maha, dan Maharaja), boleh jadi di masa lalu memang pernah terjadi kontak antara penduduk pribumi Pakpak dengan para pendatang dari India. Jejak kontak itu tentunya tidak hanya dibuktikan lewat dua hal tersebut, dibutuhkan data lain yang lebih kuat untuk mendukung dugaan tadi. Oleh karena itu maka pengamatan terhadap produk-produk budaya baik yang tangible maupun intangible diperlukan untuk memaparkan fakta adanya kontak tersebut. Selain itu waktu, tempat terjadinya kontak, dan bentuk kontak yang bagaimanakah yang mengakibatkan wujud budaya dan tradisi masyarakat Pakpak sebagaimana adanya saat ini. Untuk itu diperlukan teori-teori yang relevan untuk menjelaskan sejumlah fenomena budaya yang ada.

Jumlah etnis Pakpak sekarang ini baik yang bertempat tinggal di Pakpak maupun di luar Pakpak lebih kurang 500.000 orang. Adapun dari masing-masing tersebut diatas adalah sbb:

  1. Si Haji dengan keturunannya bermaga Padang, Brutu dan Solin.
  2. Si Raja Pako tempat di Sicike-cike dengan keturunannya Marga Ujung Angkat, Bintang Capah, Sinamo, Kudadiri dan Gajah Manik (Si Pitu Marga)
  3. Pubada dengan keturunannya Manik, Beringin, Tendang, Bunurea, Gajah, Siberasa.
  4. Ranggar djodi
  5. Mbello (Perbaju bigo) Menurut kisah telah tenggelam oleh suatu peristiwa.
  6. SANGGIR dengan keturunannya Tumangger, Tinambunan, Anakampun, Meka, Mungkur, Pasi, Pinayungen.

C. Jejak Hindu-Buddha dalam kepercayaan dan tradisi orang Pakpak

Sebelum kedatangan agama Islam dan Kristen di tanah Pakpak, masyarakatnya meyakini bahwa alam raya ini diatur oleh Tritunggal Daya Adikodrati yang terdiri dari Batara

Guru, Tunggul Ni Kuta, dan Boraspati Ni Tanoh (Siahaan dkk.,1977/1978:62). Nama-nama itu antara lain terwujud lewat mantra ketika diadakan upacara menuntung tulan(pembakaran tulang-tulang leluhur). Sebelum api disulut oleh salah seorang Kula-kula/Puang dia mengucapkan kata-kata sebagai berikut (Berutu, 2007:32):

“O…pung…! Ko Batara Guru, Beraspati ni tanah, Tunggul ni kuta, … .”

Nama Boraspati dan Batara Guru jelas merupakan adopsi dari bahasa Sanskerta yang disesuaikan dengan pelafalan setempat. Kata Boraspati merupakan adopsi dari kata Warhaspati yang berarti nama/sebutanpurohita (utama/pertama) bagi para dewa. Jadi kata ini merujuk pada penyebutan bagi dewa tertinggi atau yang dianggap utama/penting yang dalam konteks ini (boraspati ni tanoh) dapat diartikan sebagai dewa utama yang berkuasa di tanah/bumi.

D. Kebudayaan Pakpak sebagai buah dari perdagangan internasional

Masuknya unsur-unsur budaya Hindu-Buddha (India) ke dalam budaya Pakpak dimungkinkan oleh adanya kontak antarpendukung kedua budaya. Tempat yang paling memungkinkan terjadinya kontak itu di masa lalu adalah Barus, yang bukti-bukti sejarah maupun arkeologisnya menunjukkan tempat ini pernah berjaya sebagai bandar internasional.

Para pedagang dari India mendatangi Barus untuk membeli getah bernilai tinggi yang dihasilkan di daerah Pegunungan Bukit Barisan yang menjadi tempat tinggal orang-orang Pakpak. Bukti kehadiran mereka –terutama dari India selatan/daerah Tamil- adalah Prasasti Lobu Tua, yang ditemukan di Barus, Tapanuli Tengah. Prasasti berangka tahun 1010 Saka (1088 M) ini dikeluarkan oleh suatu serikat dagang yang bernama Ayyāvole 500(Perkumpulan 500) (Sastri,1932:326 dan Subbarayalu,2002:24).

Dalam beberapa teks berbahasa Armenia yang berasal dari abad ke-13 hingga ke-18 Masehi terdapat suatu tempat yang disebut Pant’chour/Part’chour sebagai tempat asal kamper bermutu terbaik (Kévonian,2002:51). Menurut teks-teks Armenia tempat lain yang juga banyak mengeluarkan kamper bermutu adalah P’anes/ Ēp’anes/ Ēp’anis/Ep’anēs, yang terletak di pantai timur di bawah Perlak/Peureulak. Menurut teks-teks Armenia tersebut hanya ada 2 tempat di Pulau Sumatera yang mengeluarkan mata dagangan kamper yakni Pant’chour dan P’anēs (Kévonian,2002:70–72). Prasasti Rajendra I di Tanjavur menyebutkan tentang “Pannai di tepi sungai” sebagai salah satu tempat yang diserbu tentara Cola pada tahun 1025 M. Berdasarkan sumber-sumber tertulis itu titik-titik kontak antara pribumi Pakpak dengan budaya India adalah Barus yang berada di pesisir barat Sumatera dan Pane di selatannya yang bermuara di pesisir timur Pulau Sumatera.

Walaupun daerah Pakpak berada di gugusan Pegunungan Bukit Barisan, namun lembah-lembah beserta aliran sungainya memegang peranan penting bagi terciptanya komunikasi antara daerah pesisir dengan daerah pedalaman. Di samping itu, gugusan pegunungan, lembah-lembah, dan sungai-sungai yang ada juga ikut menciptakan jaringan perdagangan antara daerah pesisir dan pedalaman. Dunia niaga antara kawasan Singkel dan Barus denganPakpak landen (tanah Pakpak) dan Sibolga serta Natal dengan Angkola dan Mandailing banyak ditentukan oleh jalur niaga yang melalui gugusan pegunungan, lembah-lembah, dan sungai-sungai di daerah tersebut (Asnan,2007:40–41).

Sampai awal abad ke-19 penduduk dari subetnis Pakpak, Angkola, dan Mandailing dikenal sebagai pengumpul hasil hutan (terutama kamper dan kemenyan) yang mereka jual ke daerah pantai barat Sumatera. Selain pantai timur Sumatera daerah pesisir barat Sumatera merupakan daerah pasar utama dari berbagai komoditas yang dikumpulkan dan dihasilkan oleh masyarakat Pakpak, Angkola, dan Mandailing (Asnan,2007:42).

Kontak yang terjadi antara orang-orang Pakpak dengan para pendatang dari India di masa lalu mengakibatkan terjadinya akulturasi. Akulturasi adalah salah satu proses perubahan budaya, yang ditandai oleh terjadinya interaksi intensif antara kelompok-kelompok individu dengan kebudayaan berbeda, yang mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan besar pada pola kebudayaan dari salah satu atau kelompok-kelompok yang terlibat.

Dalam hal kebudayaan Pakpak, tampaknya akulturasi yang berupa adisi merupakan proses budaya yang terjadi di masa lalu. Sebelum kedatangan orang-orang India dengan kebudayaannya yang khas, orang-orang Pakpak telah mewarisi kebudayaan tersendiri yang berbeda dari para pendatang dari barat tersebut. Datangnya budaya baru pada masyarakat Pakpak memperkaya khasanah budaya yang telah lama mereka miliki. Pada ranah sistem kepercayaan misalnya sebelum kedatangan kepercayaan Hindu-Buddha masyarakat telah memiliki kepercayaan terhadap roh-roh leluhur. Masuknya agama Hindu-Buddha dengan pantheon-pantheon dan sistem ikonografinya telah menambah ragam bentuk hasil budaya trimatra Pakpak yang telah ada sebelumnya.

Bentuk-bentuk seperti patung angsa yang berfungsi sebagai tutup batu pertulanensebenarnya tidak lain adalah hasil interpretasi Pakpak terhadap ikonografi Hindu yang dikawinkan dengan bentuk mejan yang telah ada sebelumnya, sebagai suatu simbol kendaraan/wahana arwah. Bentuk mejan awal/asli pribumi Pakpak itu mungkin sebagaimana yang hingga kini masih dapat dilihat di daerah Toba seperti bentuk kepala burung enggang/rangkong, kuda, dan perahu yang dianggap sebagai simbol asli bagi kendaraan arwah.

E. STRUKTUR KEMASYARAKATAN

Masyarakat terdiri dari atas Marga-marga (65 marga) yang mendiami masing-masing kawasan hak tanah ulayat yang merupakan satu kesatuan dengan hidupnya dipimpin oleh Pertaki kemudian diatasnya adalah AUR yang dipimpin seorang Raja.

Struktur kemasyarakatan tersebut diletakkan pada SULANG SILIMA yang terdiri dari pada PRISANG-ISANG (Sukut) Pertualang tengah (Saudara-saudara tengah) PEREKUR-EKUR (Siampunan/bungsu) PERBETEKKEN (berru) dan PUNCA NDIADEP (Puang kula-kula). Pembagian status ini mempunyai peranan penting di dalam kemasyarakatan terutama berkaitan dengan status seseorang yang harus termasuk di dalam Sulang Silima tersebut. Pertaki mempunyai peranan yang sangat luas seperti pepatah mengatakan “Bana bilalang Bana birru, Bana ulubang bana guru” mempunyai kelebihan sebagai Panglima Perang, Raja Adat dan sebagai Guru yang menjadi suri teladan serta panutan bagi masyarakatnya.

BAB III

PEMBAHASAN

A. MOTTO ADAT PAKPAK

Banyak motto terdapat di Sumatera Utara, dengan motivasi spesifik intrinksik maupun ekstrinksik terhadap budaya masyarakatnya. Tapanuli mempunyai motto “Anakhonhi do hamoraon di ahu”, Simalungun terkenal dengan “Habonaron do bona”, Karo mempunyai motto “Sada gia manukta gellah takuak” dan Melayu Deli mempunyai motto setampuk sirih sejuta pesan.”

Motto adat pakpak adalah “Ulang telpus bulung”(merugikan diri sendiri) muncul pada zaman dahulu saat ilmu pengetahuan dan teknologi belum menjamah kehidupan Pakpak. Bila diartikan secara harfiah yaitu “Daun jangan sampai terkoyak atau bocor”. Daun yang dimaksud adalah daun pisang yang dipakai sebagai alas makanan pengganti pinggan pasu yaitu piring. Dimana pada saat itu pinggan pasu atau piring hanya diperuntukkan bagi pertaki(ulubalang)/raja.

Pada saat makan menggunakan daun pisang sebagai pengganti pinggan (piring) tadi jika satu tangan dengan kelima jari menahan dua lapis daun pisang, diletakkan 5 potong ubi rebus di atasnya maka daun pisang akan koyak, tidak kuat menahan beban. Bayangkan zaman sekarang anda membeli lontong satu bungkus dengan porsi lebih, maka daun pisang pembungkusnya akan koyak dan lontong anda tumpah semua. Oleh karena itu diperlukan kedua tangan untuk menahan ke-5 potong ubi rebus tersebut agar daun pisangnya tidak koyak. Hal ini berarti kita memerlukan tangan orang lain membantu kita mengambil dan meletakkan sesuatu ke atas daun pisang yang kita pegang dengan kedua tangan kita.

Demikian pula pada saat pesta (pesta njahat maupun mende), orang hanya boleh memakan makanan yang jumlahnya, porsinya sesuai (pas) dengan daun pisang yang tersedia. Sebab bila serakah dengan porsi lebih malah akan tumpah dan tidak dapat menikmati apa-apa. Orang narahup, rakus maksudnya akan kennan uhut (sekam padi). Oleh karena itu harus ada keseimbangan antara daya tampung dengan yang ditampung. Keiklasan orang pemberi makan dan sukacita orang yang diberi makan, jangan ngut-nguten, bersungut-sungut maksudnya. Jadi semacam “take and give”. Boleh juga disebut saya tidak berarti apa-apa apabila orang lain tidak ada, saya tidak dapat hidup sendirian tanpa kehadiran orang lain. Tetapi saya tidak dapat memaksa orang lain memberi lebih kepada saya, karena daya tampung saya sendiri juga terbatas. Orang lain bukanlah dispenser yang bila dipencet akan keluar air panas atau air dingin sesuai dengan keinginan kita.

Motto ini berlaku pula dalam pelaksanaan adat Pakpak. Contoh sederhana apabila seseorang diundang menghadiri acara pesta mengadati pernikahan. Sebutlah posisinya sebagai Kula-kula/Kalimbubu/Puang atau Simemupus dari pengantin pria harus membawa manuk, bellagen mbentar dan kembal selampis berisi beras atau pinahpah dan lemmang maupun nditak tasak (Ayam, tikar putih dan sumpit)selanjutnya persinabul, perkata-kata (MC, Master of ceremony pesta) mewakili pengantin akan memberikan oles atau mandar (Ulos atau Sarung) dan sejumlah uang minimal senilai yang dibawa kula-kula tadi. Demikian pula bila posisi undangan sebagai perberru apabila membawa oles akan menerima balasannya seekor ayam lengkap dengan selampis dan tikar, lemmang, pinahpah atau nditak tergantung nilai oles yang dibawa. Jadi tercipta semacam balancing, keseimbangan antara pihak berru, kula-kula hingga ke sulang silima. Sampai disini dirasakan masih relevant dan baik

Kelemahan mulai muncul, pada saat meminang impal, calon istri. Pihak keluarga perempuan mulai hitung-hitungan. Mulai menghitung bulung, untung rugi. Berapa ya bulung (duit, kerugian) habis mulai melahirkan sang putri, membesarkannya, menyekolahkannya dan uang sogokan mencarinya pekerjaan (kalau sang putri pegawai negeri, sudah menjadi rahasia umum perlu uang sogokan agar dia diterima jadi pegawai). Bulung oda boi telpus, pihak manapun tidak mau rugi. Total perhitungan jadilah mas kawin yang harus dibayar. Bisa dalam bentuk uang, emas, mesin jahit, kerbau, sawah atau ladang yang disebut dengan tokor berru (sinamot, mahar). Tawar menawar tokor berru antara persinabul pengantin pria dan persinabul wanita biasanya berjalan alot dan bila kedua belah pihak saling bersikeras dan tidak ada yang mau mengalah perkawinan akan undur waktu, meniti hari baik bahkan ada kemungkinan batal. Anehnya suku Pakpak, mampu menerima adat suku manapun juga, baik calon pengantin pria maupun wanita. Bahkan tidak heran adat suku lain diberlakukan di daerah Pakpak walaupun kedua pengantin berasal dari suku Pakpak asli hanya karena ayah angkat salah satu pengantin dari suku lain tersebut. Hal ini dapat terjadi menghindari biaya “Ulang telpus bulung” yang relatife mahal dan pihak pengantin pria dari kalangan kurang mampu padahal kedua pengantin sudah cocok dan saling mencintai.Maka identitas Pakpak pun hilang setahap demi setahap, baru oleh satu alasan saja belum lagi faktor-faktor yang lain. Motto “Ulang telpus bulung” pun mempengaruhi kehidupan sosial sehari-hari. Akibatnya setiap tindakan sosial yang diperbuat mengharapkan balasan yang setimpal. Jeleknya lagi ada yang mengharapkan perbuatannya, pemberiannya akan dibayarkan kelak (tidak dermawan). Pamrih semacam ini menjadikan orang Pakpak tidak rela berkorban, sehingga ada istilah “Oda mersidahiin” Tidak saling mengunjungi dan memberikan kewajiban adat ataupun menerima hak adat. Adalah kebiasaan kita zaman dahulu hidup berdampingan, tidak bermusuhan, bukan tidak cakapan atau cikalak dan hidup rukun. Budaya “Oda mersidahiin” atau cikalak, eskete terjadi karena budaya gampang sekoh dan tembohon, tersinggung dan ngambek maksudnya. Penyebabnya macam-macam karena perbedaan tingkat sosial, kecemburuan sosial (late, teal, elat, iri, dengki), bisa juga karena pernah khilaf lupa mengundangnya pada suatu pesta, khilaf lupa memberikan sulangnya pada suatu pesta dan malah ada dendam turun temurun karena masalah baleng, perbatasan ladang atau pembagian harta warisan yang dirasakan tidak adil. Ada juga karena masalah dukung mendukung pada pemilihan raja bondar, sintua , kepala desa atau anggota dewan. Dan banyak penyebab lainnya. Motto ulang telpus bulung pun menjadi hambatan dalam pembangunan, membangun sesuatu sarana yang berasal dari swadaya masyarakat. Kerelaan memberikan dana dan tenaga pun masih berhitung-hitung bulung, karena kerelaan berkorbaan rendah.

Adalah tanggung jawab kita bersama sebagai generasi penerus Pakpak, bukan hanya sebagai penerus generasi Pakpak, meneruskan darah marga Pakpak saja untuk mengembangkan sisi positif dan meminimalkan sisi negatife motto “Ulang telpus bulung”. Merubah sikap budaya Pakpak yang negatife menjadi kelebihan Pakpak.

B. HUKUM ADAT TANAH SUKU PAKPAK

Tanah merupakan satu kesatuan dengan kehidupan masyarakat Pakpak atau menunjukkan identitas tentang keberadaan anggota masyarakat tersebut sehingga tanah menentukan hidup matinya masyarakat tersebut. Tanah dikuasai oleh marga sebagai pemilik ulayat tanah tersebut. Adapun bentuk-bentuk tanah sebagai berikut :

  1. Tanah tidak diusahai, yaitu “Tanah Karangan Longo-longoon”, “Tanah Kayu Ntua”, “Tanah Talin Tua”, “Tanah Balik Batang” dan Rambah Keddep”.
  2. Tanah yang diusahai yaitu “Tahuma Pargadongen”, “Perkenenjenen”, dan “Bungus”.
  3. Tanah Perpulungen yaitu embal-embal, Jampalan, dan Jalangen.
  4. Tanah Sembahen, yaitu tanah-tanah yang mempunyai sifat magis (keramat) terdiri dari tanah Sembahen Kuta (tidak dapat diperladangi) dan tanah Sembahen Balillon (dapat diperladangi).
  5. Tanah Pendebaan yaitu tanah yang diperuntukkan bagai perkuburan.
  6. Tanah Persediaan yaitu tanah cadangan dimana tanah ini tetap hak marga, tanah yang dijaga oleh Permangmang (kelompok tertua) dan tidak boleh diganggu.

Menyangkut pergeseran/pengalihan tanah tidak ada dalam hukum adat Pakpak, kecuali tanah Rading Beru (tanah yang diberikan kepada anak perempuan atau menantu sepanjang masih dipakai ) dan bila tidak dapatdipakai lagi harus dikembalikan kepada kula-kulanya atau yang memberikan tanah rading berru.

Bila ada permasalahan mengenai pertanahan, penyelesaiannya diserahkan kepada Sulang Silima.

C. KEPERCAYAAN

Pada saat ini masyarakat Pakpak telah memeluk Agama Islam dan Kristen, walaupun sebelumnya sangat kuat terhadap kepercayaan animisme (pelebegu) namun hal ini menunjukkan perobahan yang sangat cepat atas kepercayaan ini, walaupun masih ada kepercayaan-kepercayaan tertentu. Toleransi antara pemeluk Agama tersebut, tinggi karena diikat oleh kekeluargaan.

D. ISTILAH KEKERABATAN PAKPAK

1) stilah Kekerabatan Ego dengan Saudara Inti dan Keluarga Sekandung (Sinina)

Istilah-istilah kekerabatan yang dikenal yaitu Bapa (Ayah), Inang (Ibu), Kaka/Abang (Kakak lk. Abang), Dedahen/Anggi (Adik laki-laki/adik pr.), Turang (Kakak/Adik pr. ), Mpung/Poli (Kakek), Mpung Daberru (Nenek), Patua (Sdr lk. tertua Ayah), Nantua (Istri Sdr lk. tertua Ayah), Tonga (Sdr lk. tengah Ayah), Nan Tonga (Istri Sdr lk. tengah Ayah), Papun (Sdr lk. termuda Ayah). Nangampun (Istri Sdr lk. termuda Ayah), Inanguda (Sdr pr. Ibu yg lebih muda), Panguda (Suami Sdr pr. Ibu yg lebih muda), Nan Tua (Sdr pr. Ibu yg lebih tua), Patua (Suami Sdr pr. Ibu yg lebih tua).

2) Istilah Kekerabatan Ego dengan Kelompok Berrunya

Istilah-istilah kekerabatan yang dikenal yaitu Turang (Sdr Pr), Silih (Suami Sdr Pr), Beberre (Anak Sdr Pr), Berru (Anak Pr. Ego), Kela (Menantu Lk), Namberru (Sdri Ayah), Mamberru (Suami Sdri Ayah), Impal (Anak lk Sdri Ayah), Turang (Anak Pr .Sdri Ayah), Mamberru (Mertua lk. Sdri Ego), Namberru (Mertua Pr. Sdri Ego).

C.Istilah Kekerabatan Ego dengan Kelompok Puangnya

Istilah-istilah kekerabatan yang dikenal yaitu Puhun (Sdr Lk Ibu), Nampuhun (Istri Sdr Lk Ibu), Impal (Anak Lk/Pr Sdr Lk. Ibu), Sinisapo (Istri Ego), Silih (Sdr Lk Istri), Bayongku (Istri Sdr Lk Istri Ego), Puhun (Mertua Lk), Nampuhun (Mertua Pr), Kalak Purmaen (Menantu Pr), Purmaen (Anak Sdr Lk Istri Ego).

E.ORNAMEN KHAS SUKU PAKPAK

1) Beraspati (cicak)

Hiasan ini menggambarkan sepasang cicak yang disebut tendi sapo. Ornamen ini dianggap sebagai pelindung, sebagai lambang tendi (roh) yang akan melindung si penghuni rumah lahir dan bathin. Hiasan ini juga melambangkan dewa penguasa tanah sebagai lambang kesuburan, disebut juga Beraspati Tanoh.

2) Gerga Perbunga Koning

Ornamen ini melambangkan puncak keindahan bagi kaum wanita, gerga ini juga melambangkan keindahan agar penghuninya disukai orang lain seperti bunga kunyit (bunga koning)yang harum semerbak.Letaknya membujur memotong ujung dari pada nengger sebagai bidang yang menghubungkan kedua sisi atap.

3) Ornamen Gerga/Okir Pakpak

Gerga Nengger / NipermunungOrnamen ini melambangkan kedudukan Raja, Pertaki (Penguasa) seorang bangsawan yang bermarga asli di daerah tempat dia berdomisili. Hiasan ini serta merta melambangkan kejayaan pemerintahan seorang raja. Letaknya tegak lurus dari puncak atas sampai pertengahan bagian depan atau di tengah-tengah melmelen bonggar.

4) MEJAN

Patung-patung dengan berbagai ukuran itu berdiri di atas sebidang tanah. Kerak-kerak lumut yang melapisi benda-benda itu, menandakan umurnya yang telah mencapai ratusan tahun. Mejan adalah patung-patung yang menyimpan nilai sejarah yang tiada duanya. Sementara bagi orang-orang Pakpak, mejan merupakan kebanggaan dan kemasyuran Suku Pakpak yang mengandung unsur mistik dan budaya. Boleh percaya boleh tidak, di masa lalu mejan dapat bersuara apabila suatu kampung akan mengalami peristiwa.Mejan merupakan lambang kebesaran suku/marga Pakpak ini timbul tatkala dalam rangkaian perjalanan Inside Sumatera di Kabupaten Pakpak Bharat, kami mengetahui bahwa patung bersejarah yang disebut dengan mejan itu semakin lama semakin berkurang. Kini, di delapan kecamatan di Kabupaten Pakpak Bharat, diperkirakan hanya tersisa ratusan saja. Padahal, sebelumnya, mejan terdapat di setiap kampung pada masing-masing keluarga besar marga tertentu.

F. MAKANAN KHAS PAKPAK

Adapun makanan khas adat Pakpak adalah sebagai berikut:

  1. Pelleng, yaitu suatu makanan khas yang diperuntukkan bagi mereka untuk pergi berperang (mergerraha) atau untuk melakukan pekerjaan -pekerjaan dalam mencapai suatu tujuan tertentu.
  2. Nditak, yaitu sejenis makanan diperuntukkan bagi seseorang supaya “ulangkengngalen” (patah ditengah) dalam suatu usaha.
  3. Nakan Pagit yaitu makan yang diberikan kepada seorang wanita yang sedang hamil.
  4. Nakan Nggersing yaitu makanan untuk orang yang meminta agar jangan sakit-sakitan atau sesuatu yang dapat memenuhi maksud, dan
  5. Nakan Pengambat yaitu makanan yang diberikan oleh familinya kepada orang yang sedang sakit keras.

Makan pelleng dilakukan pada saat menyambut moment-moment penting dalam masyarakat pakpak sebagai contoh penyambutan tamu, Sebelum ujian, Sebelum melaksanakan perjalanan, pada saat naik pangkat, Khitanan,Dapat gaji pertama, selebrasi, inisiasi, dan hajatan lain yang dianggap penting bagi masyarakat Pakpak. Ada harapan besar setelah makan Pelleng ini timbul sebuah keberanian dan motifasi dalam diri dalam melakukan sebuah pekerjaan.Pelleng adalah sejenis makanan yang berbentuk nasi kuning (nasi pakai kunyit) pedas, agak jemek (seperti ½ bubur, tapi bukan bubur)

Biasanya Pelleng disajikan bersama Ayam Panggang atau ayam gule. Agar lebih nikmat biasanya ditambahCabe Rawit/Cabe merah (Sicina Mbara). Pelleng bagi masyarakat Pakpak ada dua jenis, yaitu pelleng khas Simsim, Kelasen dan Boang serta pelleng khas Kepas dan Pegagan. Fungsi dan maknanya sama, yang membedakan hanya pengolahannya.

G. KESENIAN PAKPAK

Permainan ” CIDO – CIDO KALIKI “

Sewaktu kecil istilah ini tidak begitu asing ditelinga saya . Permainan antara seorang anak ( usia 1 – 4 tahun) dengan orang tua yang dilakukan sambil berbaring. Secara kasat mata permainan ini kelihatannya seperti permainan biasa saja tetapi ternyata maknanya sangat dalam. Bagi seorang anak bermain “ Cido – cido kaliki “ternyata meningkatkan hubungan emosional antara anak dan orang tua, menjalin keakraban , menambah kepercayaan anak dan si anak merasa diperhatikan oleh orang tuanya. Selain tidak membutuhkan biaya , permainan ini mudah dilakukan dan yakinlah bahwa anda dan anak senang.